Selasa, 08 September 2009

Getir Hidup

Jantung berdetak tak karuan. Sebuah panggung ada di depan, ada penonton yang menyesaki gedung Auditorium RSPD, dan 3 juri duduk tenang di kursi kayu coklat bersiap menulis nilai dari penampilan para peserta. Ini pengalaman pertama.
Kami mulai menapaki tangga yang tak cukup tinggi menuju panggung. Posisi harus sempurna. Alfa ada di belakang susunan set drum hitam mengkilap, Andi dan Dika langsung mengecek gitar sekaligus efek dengan tampak serius, Bogi mengambil alih bass di paling ujung, Widi memasang kabel untuk mengalirkan listrik masuk ke keyboardnya, sedangkan aku sendiri memperkenalkan semua personil kepada para penonton dan, yang paling terpenting, kepada juri. Kami Patriot.
Alunan musik mulai memenuhi seisi Auditorium dengan bantuan sound buang. Pangeran Cinta dari Dewa dengan sedikit aransemen menjadi pembuka penampilan kami. Ya, kami berkewajiban membawakan dua lagu di putaran final ini setelah melalui sistem audisi yang begitu ketat. Elang, juga dari Dewa, menjadi lagu kami yang kedua dengan alunan cukup menghentak dan garang raungan rock alternatif.
Penonton bertepuk tangan di sela-sela asap rokok yang membumbung muncul dari mulut-mulut hitam penghisap. Bertepuk tangan kerena kami bermain baik atau bertepuk tangan karena memang sebuah formalitas, aku tak cukup peduli karena yang terpenting adalah tugas kami sudah selesai dalam beberapa menit di atas panggung yang disesaki alat musik dan sound sistem itu.
Tak ada kegiatan yang berarti saat menunggu pengumuman dikumandangkan. Mengamati penampilan peserta lain sambil memprediksi siapa pemenangnya menjadi kegiatan yang cukup menyenangkan dari pada melamun, mondar-mandir tak tentu arah. Ini festival band pelajar, jadi baik peserta maupun penonton kebanyakan memang pelajar.
Patriot tak ada dalam daftar pemenang setelah detik-detik pengumuman memasuki babak akhir. Tapi ada sesuatu yang cukup membanggakan dari penampilan kami tadi, Dika terpilih sebagai the best guitarist dalam sesi ini. Sebuah piringan hitam dengan tulisan putih halus the best guitar menjadi hadiah yang cukup mentereng. Maklum, ini pengalaman pertama.
***
Hari-hari berlalu dengan terus dijejali latihan untuk meningkatkan performa dan kekompakan. Tak ada kata belajar dalam kamus perjalanan ini, padahal kami semua adalah pelajar SMA. Kadang bolos pun jadi sesuatu yang biasa untuk sekedar menunaikan latihan. Dasar kenakalan remaja.
Malam hari setelah latihan kami tak langsung pulang. Kami punya tempat tongkrongan di pinggir jalan dengan warung hik sebagai latarnya. Bias sampai larut saat kami nongkrong untuk sekedar mengisi perut, merokok, menimbulkan suatu inspirasi, dan bercakap tentang dunia musik yang begitu universal. Tak ada uang utang pun jadi. Mungkin hanya itu yang bias terlontar saat waktu pembayaran tiba. Tak ada waktu di sela-sela hari. Rumah bagai sebuah persinggahan sementara untuk tidur dan makan.
Dalam suatu lamunan sebelum tidur aku berpikir, apakah ini sebuah hidup yang logis?”. Aku pelajar tapi tak pernah mencerminkan intelektualitas. Aku seorang anak tapi tak pernah menganggap orang tua ada. Aku seorang muslim tapi terlalu jauh meninggalkan kewajiban dari-Nya. Aku menyesal. Sebuah perjalanan paling suram hidupku, terlalu kelam.
Perasaan getir
bersemayam di hatiku…
Sebuah ketakutan
mengalir di dalam darahku
Hina, aku berdosa
Aku berlari dalam pencarian
menemukan diri Mu yang terlupakan
Peluhku mulai berjatuhan
langkahku pun gontai bergantian
Allah,
aku meminta setetes ampun
dari ke-Maha Bijaksana-an Mu

***
Aku keluar dari Patriot dengan damai, mengikuti jejak Widi yang lebih dulu. Tak butuh lama mencari seorang vocalist penggantiku, tapi tidak ada untuk keyboardist. Mereka telah menentukan bahwa tak ada keyboardist dalam tubuh musik mereka.
Patriot semakin berkembang sepeninggalku. Rekama, juara festival, the bes player, menjadi penhargaan yang pantas. Bukan karena kemalasan mereka belajar tapi karena mereka telah menjadi pribadi yang professional. Mungkin dengan tidak menganggap sekolah sebagai sesuatu yang penting, tapi bukankah untuk sukses perlu ada pengorbanan. Dan itu pengorbanan yang tak perlu aku lakukan karena aku hanya ingin membuat orang tuaku bangga setelah kegigihan keduanya membiayaiku bersekolah.
***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar